Title : Happiness,Cinta itu membirkan ia bahagia walaupun bukan disisiku.
Casts : - Oh Kaeyeon
- Jang Hyunseung (B2ST)
- Cho Kyuhyun
And another cast(s)
Genre : Sad-Romance-NC17
author : oh kae yeon ( oky farah wulandari @okyfarwulandari)
Notes : Ini terinspirasi dari Beast – On Rainy Days, Kyuhyun – Love Again dan 7 years of love. Tapi mungkin On Rainy Days-nya kurang ‘berasa’, mian^^
Aku sudah menelusuri seluruh pelosok kampus ini,tapi aku tetap tidak menemukannya.
“Aigoo,dimana yeoja ini sih?” aku menggaruk-garuk belakang kepalaku. Aku berlari keperpustakaan. Aku membuka pintunya pelan. Memanjangkan kepalaku untuk melihat kesudut ruangan. Geutji? Dia disini. Aku menghampirinya pelan yang sedang duduk memeluk lututnya sambil melihat kearah jendela. Aku jongkok didepannya. Setetes airmata membasahi pipinya. Aku menghapusnya sebelum sempat ia menghapusnya. Ia menoleh kearahku sambil melepas headsetnya.
“Hyunseung-ah.”
Aku duduk disampingnya dan mengambil headset yang baru saja ia lepas.
“Apa sih yang sedang kau dengarkan?” aku memasangkannya ditelingaku. Ia kembali diam. Kali ini ia hanya melihat keujung sepatunya. Setelah lama terdiamaku bersuara.
“Kenapa menangis?” tanyaku tanpa memandangnya. Dari ekor mataku,aku melihat ia menoleh ke arahku.
“Hari ini sudah 5 tahun,Hyunseung-ah..” ia kembali mengusap pipinya. Ya,aku tahu itu.
“Ditambah sejak kemarin hujan terus saja turun. Membuatku—” kali ini ia sesenggukkan.
“Jibe gatchi! Ini sudah terlalu sore lho.” Aku menarik tangannya sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Ia bangun dan menurut.
Sepanjang perjalanan ia banyak melihat kelangit,membuatku simpati padanya. Aku memakaikan topiku dan sengaja menariknya kebawah untuk menutupi wajahnya.
“Bagaimana aku bisa melihat jika kau memaikkannya seperti ini?” ia tertawa kecil dan menaikkan sedikit topinya.
“Aku bisa menggandengmu,kok.” aku menggengam lengannya. Ia tersenyum lebih lebar sambil menggelengkan kepalanya pelan.
“By the way,saat aku menggandengmu seperti ini,aku mengingat nenekku.” aku terkikik. Ia langsung menarik tangannya dari genggamanku.
“Apakah tanganku sekeriput tangan nenekmu? Huh?” tanyanya kesal.
“Aku hanya pernah menggandeng tangan nenekku.” kataku sambil menarik tangannya lagi.
“Jadi tanganmu ini belum pernah menggandeng yeoja lain?” tanyanya seraya mengangkat tanganku.
“Aku juga pernah menggandeng ibuku sih.”
“Aigoo,maksudku,neoui yeochin Hyunseung-ah.”
“Aku belum mempunyai yeochin Kaeyeon-ah. Memangnya kau mau menjadi yeochinku? Huh?” kataku secara tidak langsung mewakilkan perasaanku.
“Ne? Ahaha~ gojitmal. Kau pasti sedang mengerjaiku kan?”
Ia tidak menganggap itu serius. Bagaimana mau menganggap serius kalo aku mengatakannya seperti tadi? Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku sebagai jawaban. Akhirnya sampai juga dirumahnya. Sementara ia membuka pintu,aku menunggu dibelakangnya.
“Gomawo.” katanya.
Aku hanya tersenyum simpul. Aku memberanikan diri memeluknya dan menyandarkan daguku dibahunya sambil memejamkan mataku.
—
Author
Hyunseung memberanikan diri memeluknya. Dan menyandarkan dagunya dibahu Kaeyeon sambil memejamkan matanya.Berbalikkan dari Hyunseung,Kaeyeon membelalakkan matanya. Ia begitu kaget mendapat pelukan ini. Dada mereka bersentuhan. Membuat Kaeyeon takut detak jantungnya dapat dirasakan Hyunseung.
“Tidak bisakah kau melupakan Kyu dan mulai melihatku?” bisik Hyunseung. Kaeyeon makin bingung mendengar pertanyaan Hyunseung. Tangannya ia lipat dibalik punggung,tidak mampu membalas pelukan Hyunseung.
“Hyun-hyunseung-ah,neo-neowaeire?” kata Kaeyeon gugup. Tapi sedetik kemudian tidak terdengar jawaban. Kaeyeon hanya merasa bibirnya dikecup oleh Hyunseung.
Setelah memikirkannya secara matang,saat itu ia menerima Hyunseung. Ia mulai mencoba melihat namja yang selalu berusaha menghiburnya. Dan hari ini adalah ke 100 hari jadi mereka. Mereka sedang menyiapkan pernikahan mereka.
—
Kaeyeon
Aku memasuki butik tempat kami janjian. Aku datang duluan. Mungkin ia masih dijalan. Aku memutuskan berkeliling sendirian dulu,karena ini kan untuk memilih gaunku sendiri. Jadi tidak salah jika aku melihat-lihat sendiri. Setelah beberapa lama berkeliling,aku menjatuhkan pilihan dibeberapa gaun. Tapi aku sudah memiliki satu yang sudah aku pesan sebelumnya dan aku mau menanyakan pendapat Hyunseung dulu. Jadi aku memutuskan untuk duduk menunggu Hyunseung sebentar.
Belum sempat aku mencapai sofa tempat menunggu,dipintu masuk sana, datang orang yang sejak tadi aku tunggu. Aku diam disini sambil tersenyum kearahnya. Ia ikut tersenyum dan mempercepat langkahnya. Begitu sampai didepanku,ia mengecup keningku. Ia juga mengecup kilat bibirku. Aku mencubit pelan perutnya karena perbuatan nekatnya.
“Mianhae membuatmu menunggu. Apakah kau sudah mempunyai pilihan?” tanyanya setelah kesakitan perutnya ku cubit.
“Sudah,jauh sebelum hari ini. Kau mau lihat yang mana saja?” tanyaku.
“Hmmm,sepertinya tidak perlu.” katanya membuatku menaikkan sebelah alisku. “Aku tau yang mana pilihanmu,chagi.” sambungnya.
“Geuraeyo?” tanyaku tidak percaya.
Ia terlihat sedang berpikir keras dan melihat berkeliling. “Yang itu.” tunjuknya pada salah satu gaun. Aku mengikuti arah jarinya. Betapa kagetnya aku melihat long dress yang ditunjuknya.
“Long dress itu? Bukan! Kau sok tahu sih.” jawabku. Long dress? Memangnya aku princess-princess di kartun yang gaunnya dapat menyapu lantai?
“Aku menunjuk yang disebelahnya. Dress putih selutut dengan pingiran bunga dibawahnya. Silahkan kau coba. Aku ingin melihatnya.” aku terpana melihatnya menebak pilihan pertamaku. Apakah Hyunseung belajar membaca pikiran dibawah sepengetahuanku?
“Geurae.” jawabku seraya meminta penjaga butik mengambilkan dressnya dan membiarkan aku mencobanya. Setelah mencobanya,aku membalikkan tubuhku kearah Hyunseung. Dari jauh,ia hanya tersenyum dan memberikanku dua jempolnya.
“Sepertinya kita harus ke jewerly shop,kita belum memiliki cincin kan?” kataku dimobil setelah mendapatkan gaunku.
“Masa sih?” kata Hyunseung sambil merogoh-rogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan kotak merah dari sana. Lalu membukanya dan menunjukkan padaku. “Lalu ini apa?” katanya lalu fokus pada jalan lagi. Aku mengambil kotaknya.“Tidak apa-apa kan aku tidak membelinya bersamamu?” sambungnya.
“Gwaenchana. Sepertinya kau juga tahu seleraku seperti apa. Aku suka cincin ini, membuatku tidak sabar untuk minggu depan,kau tau?”
“Ada apa minggu depan?” tanyanya pura-pura tidak tahu.
“Kau tidak tahu? Pernikahan Oh Kaeyeon dengan supirnya.” jawabku lalu terkekeh. Ia tampak kaget mendengar jawabanku.
“Jinjja? Aku penasaran,siapa supirnya.” Ia ikut tertawa,membuat mobil dipenuhi tawa kami berdua.
“Jang Hyunseung. Supir yang selalu membawanya ke kebahagiaan.” jawabku.
“Aigoo~ jangan merayuku! Aku tahu kau pintar merayu.” kata Hyunseung mencubit pipiku.
“Jinjjaro,Hyunseung-ah.”
“Araseo,saranghae . Kalo tidak sedang menyetir,aku ingin sekali memberikanmu chu.”
“Lupakan dan hanya fokus pada jalanan.” perintahku dengan nada galak.
“Oke oke. Ngomong-ngomong,aku punya sisa undangan.Apa kau mau aku mengirim undangan ini ke Melbourne?” tanyanya membuat jantungku berhenti berdetak. Aku menoleh dan menatap matanya untuk mencari tahu apa maksudnya bertanya ini.
“Kenapa harus dikirim?” tanyaku dengan suara gemetar. Kenapa Hyunseung harus mengingatkan hal itu?
“Jebal,jangan marah. Aku hanya bertanya. Aku tidak akan mengirimnya kalo kau melarangku.” ia memohon. Suasana berubah menjadi sedikit tegang.
“Jangan pernah mengingatkanku lagi tentang itu,jebal. Selama ini aku bersusah payah melupakan dia.” jawabku marah. Hyunseung menghancurkan segala yang aku lakukan selama ini. Ia mengingatkanku pada namja itu. Aku membiarkan Hyunseung menggenggam tanganku.
“Jeongmal mianhae. Aku janji tidak akan mengungkit tentang Kyu lagi didepanmu.” katanya masih menggenggam tanganku.
“Jangan sebut namanya.” aku menangis. Ini airmata pertama untuk seorang Cho Kyuhyun setelah sekian lama ia tidak pernah muncul dipikiranku.
—
Author
Hari ini hari bersejarah untuk Kaeyeon dan juga Hyunseung. Hari ini hari pernikahan mereka. Senyum tak dapat dilepaskan dari wajah keduanya. Hyunseung sedikit gugup juga. Ia memilih mengatur detak jantungnya dikamar rias pria.
Ia menarik nafas dalam didepan cermin.
“Kyuhyun-ah,Kaeyeon milikku hari ini.” katanya didepan cermin. Ia menoleh kepintu untuk memastikan tidak akan ada yang masuk.
“Mianhae,aku tau kau lebih dulu mengenalnya juga menyimpan perasaan padanya. Tapi sekarang itu tidak penting. Yang terpenting adalah seberapa besar frekuensinya melihat wajahmu. Ini salahmu. Meninggalkannya terlalu lama padaku. Kuharap kau tidak akan menyesal nantinya. Sekali lagi mianhae.” katanya lagi didepan cermin sambil melihat foto lama merka berdua. Ia memasukkannya ke saku jas nya,dan segera keluar untuk bersiap didepan altar.
Sementara itu,Kaeyeon..
Ia terlihat tanpa beban. Ia berhasil melupakan Kyu hari ini,walaupun tidak 100%. Ia duduk sambil terus memperhatikan ponselnya. Ternyata ia masih mengharap pesan teks atau panggilan dari Kyu. Well,sekarang bukan lagi waktunya untuk menangisi Kyu. Tepat 6 tahun 107 hari sekarang. Kyuhyun pergi,dan tidak mengabarinya. 6 tahun 107 hari waktu yang cukup untuk membuatnya mengerti,kalo Cho Kyuhyun tega memberinya harapan tanpa kepastian.
“Kaeyeon-ah,taruh ponselmu,diluar sudah ramai.” kata Eommanya.
“Ne,eomma.”
Acaranya berjalan khidmat. Kaeyeon dituntun sang ayah, Oh Nam Joo menuju altar. Sesampainya di altar, ayahnya Kaeyeon melepas genggaman tangan putrinya, dan membiarkan Kaeyeon berdiri disamping Hyunseung.
“Aku serahkan putriku,jaga dia baik-baik.” bisik ayah Kaeyeon sambil menepuk pelan bahu Hyunseung.
Hyunseung menganggukkan kepalanya. “Ne algeseumnida,abonim.”
“Baiklah,akan kumulai acaranya sekarang.” seru Sang Pendeta,membuat ruangan hening.
“Kepada pengantin pria Jang Hyunseung,apakah kau bersedia hidup bersama pengantin wanita Oh Kaeyeon dalam keadaan senang ataupun sedih?” lanjut Pendeta kepada Hyunseung.
Hyunseung menoleh kearah Kaeyeon yang menundukkan wajahnya sambil menggenggam tangan Kaeyeon.
“Ya,aku bersedia.” jawab Hyunseung mantap.
“Kepada pengantin wanita Oh Kaeyeon,apakah kau bersedia hidup bersama pengantin pria Jang Hyunseung dalam keadaan senang ataupun sedih?” Pendeta juga menanyakan pertanyaan yang sama pada Kaeyeon. Kaeyeon pun memiliki jawaban yang sama pula.
“Aku juga bersedia.” jawab Kaeyeon. Mereka pun bertukar cincin lalu berciuman singkat. Setelah itu,Pendeta membaca beberapa do’a dari alkitab.
Seluruh ruangan Yoido Full Gospel Chruch ini bergemuruh senang. Keluarga dan kerabat,mengantri mengambil foto bersama keduanya. Setelah itu merekapun berjalan dan menerima banyak ucapan selamat.
“Hyunseung-ah,Kaeyeon-ah,chukhahamnida. Lemparkan buket itu padaku yah.” pinta Son Yeomin,teman Kaeyeon.
“Makanya cepat ajak Yesung oppa mu itu menikah,Yeomin-ah.” ledek Hyunseung sambil melirik Yesung yang ada disebelah Yeomin.
“Makanya itu aku meminta buketnya agar aku cepat menyusul kalian.” jawab Yeomin sambil berlalu.
“Aigoo~ andwae.” cegah Gikwang menarik pelan baju Yeomin.
“Ya! Buket itu harus jatuh ketanganku. Agar aku cepat menikah dengan Kahyeon.” sambung Gikwang.
“Ne,matta. Aku mau segera menikah dengan kiwi~” jawab Kahyeon.
“Sudahlah,jangan bertengkar,nanti kalian perebutkan sendiri saja ya.” lerai Kaeyeon lalu berlalu menuju keluar gereja. Setelah sampai didepan,ia membalikkan badan dan melempar buketnya kebelakang. Buketnya jatuh ketangan Yeomin. Yeomin segera memeluk Yesung saking bahagianya.
“Biarkan saja,kiwi. Yesung oppa sudah tua *peace mamen!* ,jadi ia harus cepat menikah. Kita mengalah saja ya.” Kahyeon menghibur dirinya sendiri juga Gikwang.
Tanpa aba-aba dan tanpa konfirmasi dari Kaeyeon sebelumnya,Hyunseung mengecup bibir Kaeyeon yang entah sudah keberapa kali selama hubungan mereka. Dan cerita mereka pun berlanjut didalam kamar saat malam pertama. *tobat gak bikin NC kkkk~*
—
Kaeyeon
“Chagiya.” peluk Hyunseung dari belakang. Membuatku langsung membalikkan tubuhku kearahnya. Ia mengecup keningku.
“Selamat pagi.” sapanya ramah.
“Pagi,ada apa?” tanyaku masih berhadapan dengannya.
“Pakaikan aku dasi dong.” pintanya dengan manja. Aku terkikik. Aku membalikkan tubuhku dan kembali pada penggorengan dan nasi gorengku.
“Kau bisa pakai sendiri,atau menungguku. Nanti sarapanmu hangus,Hyunseung-ah.” kataku sambil mengaduk nasi gorengnya.
“Baiklah.” katanya merebut spatula yang sedang kupakai untuk mengaduk nasi goreng. “Aku mengaduknya,dan kau memasangkan dasi ku. Jadi tidak akan hangus kan?” sambungnya lagi. Kalo dipikir-pikir betul sih, jadi aku membiarkannya mengaduk nasi goreng,sementara aku memasangkan dasi dikerah kemejanya.
“Manja sekali sih.” kataku setelah selesai.
“Gomawo. Aku akan membantumu membuat teh hangat. Ini,tuang nasi gorengnya kepiring.” katanya mengembalikkan spatula tadi ketanganku.
Setelah sarapan pagi…
“Annyeong,aku berangkat dulu.” pamitnya. Aku hanya berdiri diambang pintu sambil melambaikan tangan kearahnya. Setelah mobilnya melaju,aku masuk kedalam. Membereskan bekas sarapan tadi dan mengerjakan sederet tugasku yang lain.
—
Kyuhyun
Akhirnya setelah sekian lama,pagi ini aku menginjakkan kakiku di Bandara Incheon. Aku merindukan Seoul. Banyak yang aku rencanakan disini,setelah aku lama menetap di Melbourne. Banyak juga yang aku rindukan. Terutama Oh Kaeyeon,teman kecilku. Bisakah aku memanggilnya yeoja chingu ku sekarang? Entahlah,pokoknya saat aku meninggalkan Seoul,ia mengatakan ia mencintaiku, jadi setelah hampir 7 tahun meninggalkannya, aku mau mendengar kalimat itu lagi.
Tapi ketika di taksi,aku bingung mau kemana. Mau kerumah Kaeyeon,aku sudah lupa alamatnya. Bahkan saat di Melbourne aku kehilangan kontak. Karena disana aku harus mengganti simcardku yang tidak berguna disana. Dan masalahnya lagi,aku lupa dimana aku menaruh simcard lama ku untuk melihat nomor ponsel Kaeyeon. Itu alasannya kenapa aku tidak menghubunginya. Tapi aku masih berhubungan via email dengan Hyunseung,teman SMA ku. Terakhir berkomunikasi,aku sempat menanyakan dimana ia bekerja sekarang. Sekitar sebulan yang lalu. Mungkin aku akan mengunjunginya,tetapi setelah aku melepas rinduku di beberapa tempat yang sebelumnya sempat aku datangi.
—
Hyunseung
Aigoo,begini ya rasanya jadi pengantin baru? Aku selalu ingin cepat-cepat sampai dirumah untuk melihat Kaeyeon. Seperti sekarang,aku mengendarai cepat mobilku agar cepat sampai kantor. Cepat menyelesaikan pekerjaanku. Cepat sampai rumah. Dan cepat bertemu Kaeyeon.
Sesampainya dikantor aku langsung menuju keruanganku dilantai 5. Mengerjakan pekerjaan-pekerjaanku sebagai Presdir disini. Tapi baru beberapa jam aku bekerja, telepon diruanganku berbunyi.
“Ne,ada apa,Nona Kim?” tanyaku pada sekretarisku.
“Ada yang ingin bertemu dengan presdir di lobby.”
“Di lobby?”
“Iya,tapi ia belum membuat janji sebelumnya. Apa anda mau menemuinya? Dia seorang laki-laki.”
“Siapa?”
“Katanya dia mau mengejutkan anda,jadi dia tidak mau menyebutkan namanya,presdir.”
Aku berpikir sejenak. Namja dan ingin mengejutkanku? Siapa?
“Baiklah,suruh dia menemuiku diruanganku.”
“Ne,Algeseumnida.”
Aku menutup telepon dan membereskan pekerjaan yang sedang kukerjakan. Selagi menungunya datang,aku terus berpikir,siapa dia? Apa mungkin Gikwang? Mau memberitahu tentang rencana pernikahannya? Tapi dia kan bisa menelpon ku,tidak harus melalui sekretarisku segala. Baiklah,aku tunggu saja.
Cukup lama sebelum akhirnya ada yang mengetuk pintu ruanganku. Aku duduk dengan rapi dikursiku sambil tetap memperhatikan kearah pintu. Ia masuk. Ia menggunakan jas santai yang menutupi kemejanya. Ia juga membawa koper. Siapa dia? Aku beralih kewajahnya. Potongan rambutnya rapi dan ia mengenakan kacamata hitam. Batang hidungnya,bibirnya,potongan rambutnya,aku mengenal dia! Aku membelalakkan mataku,terkejut.
“Kau terkejut Hyunseung-ah?” katanya seraya melepas kacamata.
Benar kan? Cho Kyuhyun.
“Hah?” aku masih shock,tidak habis pikir. “Kapan kau..kembali Kyuhyun –ah?” tanyaku sambil berdiri menghampirinya.
“Pagi ini. Lama tidak jumpa.” Ia memelukku sambil menepu-nepuk punggungku. Aku berusaha bersikap normal.
“Ah,benar. Bagaimana Melbourne?”
“Membosankan. Aku selalu merindukan Seoul.”
“Kenapa tidak mengabariku? Sombong sekali.”
Ia tertawa. “Kesalahan kecil. Tapi untuk aku ingat alamat email mu.” Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala.
“Duduklah,aku akan memberikanmu minum.” kataku mempersilahkannya duduk dibagian ruanganku yang lain. Lalu aku menelpon kebagian pantry,meminta segelas orange juice.
“Hyunseung-ah,bagaimana kabarnya?” aku mulai deg-degan. “Kaeyeon.” Tuh kan,ia pasti akan menyebut nama itu.
“Dia baik-baik saja. Sangat baik.”
“Kau tau,aku sangat merindukannya.”
“Tentu saja aku tahu.” aku menyusulnya dan duduk disebelahnya.
“Kau masih berhubungan dengannya?” ‘tentu saja,dia istriku’ jawabku dalam hati. Tapi aku tidak mengatakan itu padanya.
“Masih,ada apa?”
“Bisa kau menghubunginya dan menyuruhnya menemuiku disini?” tanyanya. ‘Oke,aku izinkan kau menemuinya’ batinku sambil mengeluarkan ponsel.
“Oke,aku akan mengirimkannya pesan teks.”
“Gomawo.”
Aku mulai mengetik pesan teks untuk Kaeyeon.
To :Kaeyeon
Kyuhyun datang mencarimu.
Aku menghapusnya. Tidak,tidak. Tidak boleh begini.
To :Kaeyeon
Bisa kau datang kekantorku? Disini ada Kyuhyun.
Ah~ tidak,tidak. Jangan begini.
To :Kaeyeon
Tolong datang ke kantorku segera ya,chagi ^^ mmuah kkkk~
Kalo hanya seperti ini,nanti dia pikir aku sedang bercanda. Jadi kutambahkan deh.
Ada sesuatu yang cukup penting.
“Kau bisa menunggunya. Aku sambil melanjutkan pekerjaanku yah.”
—
Kaeyeon
Dalkomhan lollipop oh lollipop oh lollipop Oh..
Ponselku berdering diatas mesin cuci. Aku mengeceknya. Pesan teks dari Hyunseung.
From :Hyunseung
Tolong datang ke kantorku segera ya,chagi ^^ mmuah kkkk~
Ada sesuatu yang cukup penting.
“Cukup penting?” pikirku sejenak. Baiklah aku akan datang. Aku meninggalkan mesin cuci yang baru aku nyalakan ke kantornya Hyunseung. Dijalan,aku membalas pesan teksnya.
To :Hyunseung
Museuniriyeyo? Jangan bilang kau hanya ingin bertemu denganku seperti waktu itu. Awas ya,kalo sampai alasannya itu.
Aku menaiki bus ke kantornya Hyunseung.
Beberapa saat kemudian,Hyunseung membalasnya.
From :Hyunseung
Museunieobseo. Kau akan tau jika sudah sampai disini. Hurry up and take care yourself,ok?
Dikantor Hyunseung..
Aku langsung menuju lantai 5 keruangannya. Aku bisa bebas disini,karena karyawan disini tahu bahwa aku adalah Nyonya Jang sekarang.
“Museuniriyeyo Hyunseung-ah?” tanyaku sambil membuka pintu ruangannya. Hyunseung mengangkat wajahnya dan melihat kearahku. Aku berdiri dibelakang pintu setelah aku menutupnya. Waktu itu Hyunseung menghampiriku,tapi kenapa sekarang tidak? Wajahnya juga sedikit serius. Pasti tidak ada yang percaya jika beberapa menit yang lalu ia mengirim pesan teks sambil bercanda.
“Kaeyeon-sshi?.” Dia tidak memenggilku ‘chagiya’ ?
“Ada yang mau bertemu denganmu.” ia melirik dan memberi kode kepada seseorang yang ada di ruang tamu ruangannya.
Dia muncul.Jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat wajahnya. Mataku perih. Ia menghampiriku dan memelukku. Sementara Hyunseung hanya berdiri melihat kami dari belakang meja kerjanya. Aku tidak mau menatap Hyunseung. Kenapa ia tidak bilang padaku sebelumnya kalo Cho Kyuhyun ada disini?
“Kaeyeon-ah. Neomu beogoshipeo.” katanya tidak melepaskan pelukannya.
To :Hyunseung
Kau harus menjelaskan ini padaku dirumah nanti. Sekarang bawa aku pulang dari sini. Aku ada di coffe shop tidak jauh dari kantormu.
15 menit sudah aku duduk disini,tapi Cho Kyuhyun hanya menatapku. Tidak mengatakan apapun.
“Aku sangat merindukanmu. Bahkan aku sampai bingung mana yang harus aku katakan terlebih dahulu.” Ia tersenyum. Senyumannya tetap sama. Tapi,senyuman ini tidak manis seperti beberapa tahun yang lalu. Sekarang senyuman ini hanya membuatku muak dan sakit.
—
Kyuhyun
“Aku sangat merindukanmu. Bahkan aku sampai bingung mana yang harus aku katakan terlebih dahulu.” kataku setelah sejenak memandangi wajahnya.
“Katamu hanya 6 bulan kan? Apakah kau tidak bisa membedakan 6 bulan dengan 6 tahun lebih? Kenapa kau berani menunjukkan wajahmu setelah kau meninggalkan aku? Kenapa kau tega meninggalkan aku setelah aku mengatakan mencintaimu sebelum kau membalasnya?” kata-kata itu menerjangku,bahkan sebelum aku sempat menjawab pertanyaan pertamanya.
“Untuk itu aku datang sekarang. Sebenarnya aku mencintaimu sebelum kau menyatakan perasaanmu. Tapi saat kau mengucapkannya,aku tidak bisa menjawab karena aku harus mematikan ponselku didalam pesawat. Kupikir,aku bisa menelponmu di Melbourne,tapi aku salah. Simcardku tidak berguna disana. Itu kenapa aku tidak pernah menghubungimu.”
“Lalu apakah di Melbourne tidak ada surat atau alat komunikasi lain selain mengirim pesan teks dan telepon?” tanyanya sambil terisak,membuat aku diam. Aku tidak pernah memikirkan mengirimkan surat dari Melbourne ke Seoul. Lalu aku harus menjawab apa?
“Oke.Mian. Jeongmal mianhae,Kaeyeon-ah. Iya,itu kesalahanku. Sekarang aku disini untuk menjawabnya. Aku ingin mendengar kau mengatakan ‘Saranghae’ lagi dan aku akan menjawab Nado Saranghae.” kataku menggenggam tangannya. Ia malah menangis. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Ia mengelap pipinya yang basah.
“Apa Hyunseung tidak mengatakannya padamu?”
“Mengatakan apa?” tanyaku. Bulir air mata membasahi pipinya lagi.
“Naneun,,..ije….k-kyeo-kyoereonhaesseoyo.” jawabnya gugup.
Aku seperti ditampar oleh jawaban Kaeyeon. Aku disini sekarang untuk mengharapkan seorang yeoja dengan status menikah?
“Kau tidak mengundangku ke acara pernikahanmu?” ia tetap menundukkan wajahnya tanpa menjawab pertanyaanku.
“Kenapa?”
“Karena kupikir,aku sudah membencimu saat itu.” Aku tertawa hambar.
“Kalo begitu,boleh aku tau siapa namja yang telah menikahimu?”
“Kau benar ingin melihatnya?”
Aku hanya menganggukkan kepala.
—
Hyunseung
Setelah menerima pesan teks Kaeyeon,aku meninggalkan kantor dan menyusulnya. Aku bahkan tidak berani membalas pesan teksnya. Kalo ia sedang marah,salah sedikitpun akan menjadi besar dimatanya. Dan itu akan susah untuk membujuknya. Jadi aku hanya menuruti isi pesan teks nya. Entah apa yang terjadi padaku dirumah nanti.
Aku sampai di tempat yang ia maksud. Aku masuk dan melihat sekeliling mencari mereka. Mereka disana. Aku menyusulnya dengan langkah yang sengaja ku perlambat.
—
Kyuhyun
“Kuharap kau tidak akan membencinya juga aku.” katanya. Kali ini ia terlihat lebih lemah lembut dan tulus.
“Tidak. Aku tidak akan membenci kalian.”
“Gomawo. Maafkan aku..”
“Untuk apa? Ini kesalahanku.”
Ia terdiam.
“Ia akan segera datang.” katanya lagi.
—
Hyunseung
Langkah kaki ku semakin mendekati mereka. Selangkah lagi aku mencapai mereka.
“Ia akan segera datang.” aku mendengar suara Kaeyeon. Mereka sedang membicarakanku?
“Annyeong.” sapaku disamping kursi mereka. Aku menjadi bingung ketika mereka berbarengan menoleh kearahku dan berbarengan membelalakkan matanya.
“Waegeurae?” tanyaku. Tapi sepertinya tidak ada yang mendengarku.
“Hyunseungi..yang kau maksud,Kaeyeon-ah?” tanya Kyu. Kaeyeon berdiri dan mengapit lengannya padaku.
“Iya. Ia telah menikahiku.” kata Kaeyeon. Aku kaget dan melihat kearahnya. Ia serius mengatakan ini? Aku melihat kearah Kyu. Ia 3 kali lebih shock dibanding aku. Apakah ini waktunya aku meminta maaf pada Kyu?
—
Kyuhyun
“Iya. Ia telah menikahiku.” kata Kaeyeon. Shock. Jantungku serasa berhenti berdetak. Dadaku sesak dan bergetar hebat. Dan sesaat kemudian aku hanya bisa merasakan sakit didadaku. Sakit sekali.
“Mianhae,Kyuhyun.” kata Hyunseung. Aku terduduk lemas dikursiku tadi. Aku mengacak-ngacak rambutku. Frustasi.
“Tidak,tidak. Aku…” aku tidak tahu harus mengatakan apa. “Aaaah” teriakku tiba-tiba membuat mereka terkejut.
“Kyuhyun-ah,kau kenapa? Maaf jika aku membuatmu shock sekarang.” kata Kaeyeon sembari memeluk punggungku. Aku tetap tertunduk.
“Kyu,maafkan aku merebut Kaeyeon darimu. Kau boleh membenciku. Tapi jangan membenci Kaeyeon.” pinta Hyunseung.
Aku mengehela nafas lalu berdiri dan memaksakan seulas senyum.
“Aku tidak akan membenci kau ataupun Kaeyeon.” kataku saraya menepuk bahu Hyunseung. Lalu aku memeluknya.
“Chukhahada” kataku. Aku melirik Kaeyeon. Ia menunduk dan terlihat menangis.
“Berbahagialah bersama Hyunseung.” kataku kemudian memeluknya sekilas.
—
Hyunseung
Ia masih terdiam,belum juga mengeluarkan sepatah katapun. Didalam mobil tadipun,ia hanya diam.
“Gwaenchana?” tanyaku dan hanya dijawab oleh anggukkan kepala olehnya. Ia membuka pintu rumah dan aku dibelakangnya.
“Aku tahu,selama ini kau belum melupakan Kyu sepenuhnya.”
“Maksudmu?” Ia menghentikan langkahnya dan berdiri dihadapanku.
“Entahlah. Atau mungkin kau masih…mencintainya? Aku tau sulit bagimu melupakannya.” Dahinya berkerut. Sepertinya ia tidak setuju dengan kata-kataku dan sepertinya ia akan marah.
“Jadi maksudmu kau hanya ku jadikan pelampiasan? Menikah dengan mu kujadikan mainan? Maksudmu aku tidak mencintaimu? Begitu Jang Hyunseung?” Aku berjalan kekamar meninggalkannya berdiri didepan pintu.
“Jadi tidak begitu?” kataku sambil membuka jasku. Tidak lama kemudian ia sudah ada dikamar.
“Apa aku setega itu mempermainkanmu? Membohongimu,keluargamu,keluargaku dan juga diriku sendiri sampai sejauh ini? Aku tidak akan pernah setuju menikah denganmu kalau aku masih mencintai Cho Kyuhyun.” Ia terisak. Tuhan,apakah aku melukai hatinya?
Aku yang sudah melepas kemejaku,menghampirinya diujung ranjang.
“Mianhae telah meragukanmu. Aku percaya.” aku memeluknya. Dadaku basah. Ia menangis.
“Saranghae Kaeyeon-ah. Uljima.” Aku melepaskan pelukan dan menghapus airmatanya. Lalu aku mengecup keningnya.
“Saranghae Hyunseung-ah.” katanya disaat aku mengecup keningnya. Kecupanku turun kebawah. Aku mencium bibirnya. Menghisap bibir bawahnya agar ia mau membuka mulutnya. Tiba-tiba ia berhenti dan melepas ciumanku.
“Kau mau melakukannya?”
“Ne? Apa? ‘Itu’?” kataku bingung dan membentuk jariku menjadi angka 2 diudara. Ia hanya mengerucutkan bibirnya sambil mengusap sisa airmatanya.
“Curang sekali! Setelah membuatku menangis kau menciumku.” Aku tertawa.
“Geurae. Ayo buktikan sekarang kalau kau mencintaiku. Kemarilah Kaeyeon sayang.”
“Kau sudah half naked. Tunggu aku,aku mau melepas bajuku.” Ia berjalan keluar untuk melepas pakaiannya.
“No! No! Kemarilah,biar aku yang melucuti pakaianmu satu persatu.” Kaeyeon pun langsung berbaring disampingku. Dan kami melakukannya lagi untuk yang ke…ke…berapa ya? Aku tidak ingat. Hampir setiap malam sih kami melakukannya. Hihihihi
5 years later…
“Jang Hyemi,kau tidak pulang?” tanya seorang anak laki-laki yang melihat temannya masih berdiri didepan sekolah.
“Sepertinya eomma terlambat menjemputku lagi.”
“Appa juga belum datang. Kalau appaku datang nanti,kau ikut aku saja ya? Aku akan meminta appa mengantarmu.”
“Bagaimana kalau eommaku yang datang duluan?”
“Tidak mungkin. Eomma mu pasti sibuk. Eomma mu kan seorang dokter.”
—
Kaeyeon
Aku mengendarai mobilku dengan cepat menuju sekolah SD tidak jauh dari rumah sakit tempatku bekerja. Ya,sejak 2 tahun yang lalu aku menjadi dokter disana. Sekarang aku mau menjemput putriku. Aku sudah terlambat menjemputnya. Aku juga harus cepat karena aku harus kembali kerumah sakit. Tapi ketika akan memarkirkan mobilku,aku melihat Hyemi berjalan dengan temannya dan menuju sebuah mobil.
—
Author
“Geutji? Appaku sampai duluan. Ayo!” anak laki-laki tadi menarik tangan Hyemi.
“Nanti eommaku bagaimana?” tanya Hyemi bimbang.
“Bu Guru, bisa kau bilang pada ibu Hyemi kalu Hyemi pulang bersamaku? Aku akan mengantarnya pulang bersama appaku. Appaku disana.” Ia menunujuk appanya yang tengah menunggu dimobil.
“Oke. Bawa Hyemi dengan selamat ya Geonwoo.” kata Bu Guru tadi lalu membungkukkan tubuh kepada Appanya Geonwoo dari jauh.
“Ayo,Hyemi-ah.” anak yang bernama Geonwoo itu menarik tangan Hyemi menghampiri appanya dimobil.
“Appa,temanku kasihan belum dijemput oleh eommanya. Tidak apa-apa kan kalau kita mengantarnya?” tanya Geonwoo pada appanya. Lalu appanya keluar dari mobil.
“Boleh. Ayo masuk.” Appanya membukakkan pintu belakang. Setelah mereka masuk, ia pun juga masuk dikursi depan.
—
Kaeyeon
Nah,dan sekarang apa? Hyemi masuk kedalam mobilnya? Wah wah! Aku segera turun dan menghampiri mobil itu. Aku mengetuk kaca jendela pengemudinya.
“Jogiyo.” kataku dan membungkukkan tubuh. Ia pun keluar dari sana.
“Didalam ada anakku. Hyemi. Jang Hyemi.” kataku sambil menunjuk-nunjuk kedalam.
“Kaeyeon…euisanim?” katanya seraya melepas kacamata hitam yang ia pakai.
“Omona~” aku membekap mulutku terkejut.
“Cho Kyuhyun-sshi,lama tidak bertemu.” sambungku.
“Senang bertemu denganmu lagi,Kaeyeon-ah.”
“Kau dokter? Kau masih memakai seragammu.” katanya sambil menunjuk pakaianku.
“Iya. Bisa kau keluarkan anakku? Aku harus segera kembali kerumah sakit.”
“Sudahlah,biarkan dia bermain dengan Geonwoo. Nanti aku antar dia pulang kerumahmu.”
“Geonwoo…anak kecil yang tadi menggandeng Hyemi?”
Kyuhyun mengangguk. “Iya,dia anakku, Kembalilah kerumah sakit,nanti aku akan mengantar Hyemi”
“Ah,jangan. Merepotkan sekali. Nanti malam akan kusuruh Hyunseung menjemputnya. Nanti kirimkan aku alamatmu ya.”
“Oke.”
“Annyeong,aku pergi dulu. Gamsahamnida.” aku membungkukkan tubuhku dan kembali kemobilku.
‘Mungkin sekarang aku bisa menitipkan Hyemi pada Kyu. Jadi Hyemi tidak akan menunggu lama,dan pasien ku tidak terbengkalai.’ batinku.
—
Kyuhyun
5 tahun lalu aku memang kecewa. Memang Frustasi. Tapi aku yakin Tuhan telah mempersiapkan yang lebih indah. Yang lebih baik untukku. Aku menerimanya. Aku menerima Hyunseung bersama Kaeyeon. Aku juga menikahi Choi Sooyoung 5 tahun lalu,temanku di Melbourne. Dan tidak kusangka sekarang anak kami sebaya. Benar bukan? Tuhan memberikan aku yang lebih indah dari yang aku harapkan. Choi Sooyoung lebih baik bersamaku daripada Oh Kaeyeon yang bersamaku. Dan bersama Choi Sooyoung, Tuhan juga memberiku Cho Geonwoo.
The End.